Kamis, 05 November 2009

Kilas balik kesenian tradisional Ketoprak

Apa Ketoprak itu ?

Ketoprak adalah kesenian rakyat yang berbentuk sandiwara atau drama Yang terdapat di Jawa Tengah Jawa Timur dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Seiring dengan berjalanya waktu, kesenian ketoprak sudah berkali-kali mengalami perubahan-perubahan, mulai dari jenis musik iringan tema cerita dan bentuk penyajiannya. Sebenarnya semua itu bentuk budi daya dari para pelaku yang di dukung para pemerhati dan pecinta kesenian ketoprak untuk beradaptasi dengan berkembangnya jaman.


Bagaimana ciri khas Kethoprak?

Ketoprak ini dilakukan oleh beberapa orang menurut keperluan ceritanya. Adapun ciri khas dari ketoprak :
1. Dialog berbahasa jawa
2. Bercerita tentang Raja-raja pada abad 4 s/d abad 18. Dongeng rakyat. legenda. Mitos. juga kadang-kadang menampilkan LAKON CARANGAN “cerita made in sutradara ketoprak”.
3. Walau iringan musik ketoprak selalu berubah menyesuaikan perkembangan jaman, namun suara KEPRAK/KENTHONGAN pasti selalu terdengar.


Ada apa dengan kenthongan?

Selain cirikhas, memang dari sebuah KENTHONGAN BAMBU itulah akirnya kesenian ini bernama ketoprak. Menurut ceritanya ketoprak terbentuk pada jaman kolonial Belanda, di jaman itu selain bahasa lokal masyarakat cenderung menggunakan bahasa Belanda sehingga setelah selesai menonton kemudian orang menamai kesenian ini sebagai kesenian KETHOK FRAGHMEN karena FRAGHMEN atau PERTUNJUKAN yang di tampilkan selalu di iringi dengan KETHOK atau KENTHONGAN BAMBU. Dari asal kata KETHOK FRAGHMEN itu Kemudian lidah orang Jawa yang tidak fasih berbahasa Belanda menyebut kesenian ini KETOPRAK.


Siapa Pencipta ketoprak?

Pencipta ketoprak adalah rakyat, maka sangat tepat apa bila ketoprak mendapat predikat sebagai tontonan rakyat yang merakyat.
Sedangkan di dalam sejarah perubahan bentuk kesenian ketoprak itu sendiri terbagi menjadi beberapa istilah seperti berikut.


1. Ketoprak gejog/lesung (1887 - 1908)
Asal mula ketoprak ini terwujud dari permainan para pemuda di dusun yang sedang bermain sambil diiringi irama lesung pada saat bulanpurnama. Namun kebiasaan tersebut kini menjadi salah satu budaya dan salah satu seni drama tradisional kuno. Alat musik yang digunakan pada awalnya hanya sebuah gejog (lesung) dengan di iringi beberapa lelagon dolanan (nyanyian pedesaan) di antaranya lagu ILIR-ILIR, JAMURAN, IJO-IJO dll. Ketoprak yang masih menggunakan iringan lesung tergelar sekitar tahun 1887 dan lakon yang di tampilan hanya bercerita tentang seputar kehidupan di pedesaan.


2. Ketoprak Wreksadiningrat (1908 - 1925)

K.R.M.T.H Wreksadiningrat seorang abdi dalem Bupati Nayaka di Surakarta Hadiningrat melihat ada kandungan seni yang sangat bagus di dalam ketoprak tersebut, hal itu menggugah hatinya untuk mengangkat tontonan ketoprak menjadi salah satu bagian dari kesenian keraton. Dari situlah ketoprak mengalami pertama kali perubahan, semula hanya di iringi musik lesung kemudian iringanpun di tambah dengan kendang seruling dan terbang, nyanyian yang semula hanya lelagon dolanan akhirnya di tambah dengan sekar alit (macapat) dan sekar tengahan di antaranya MIJIL PAMULAR. PUCUNG BUPLAK. GAMBUH dll. Lakon yang di tampilkan mulai mengambil cerita-cerita berbau dongeng seperti JAKA BODO, WARSA WRASI, JAKA KUSNUN dll. Perkembangan ketoprak mampu menarik perhatian kalangan keraton. Hal itu terbukti dengan banyaknya kerandah dalem (orang dalam keraton) yang berminat mementaskan untuk beraneka macam acara yang di adakan oleh kerandah dalem, bahkan Susuhunan Mangku Negara sendiri tidak jarang menampilkan ketoprak Wreksadiningrat. Tidak di ketahui dengan jelas apa penyebab bubarnya ketoprak Wreksadiningrat, ada kemungkinan usia tua K.R.M.T.H Wreksadiningrat yang menyebabkan ketoprak tersebut sejak tahun 1925 sudah tidak pernah menggelar pementasan lagi.


3. Ketoprak Wreksatama (1925 – 1927)

Kemudian pada tahun 1925 di kampung Madyataman Surakarta berdiri grup ketoprak baru dengan nama ketoprak Wreksatama yang di dirikan oleh Ki Wisangkara bekas anggota ketoprak Wreksadiningrat. Di bawah kepemimpinan Ki Wisangkara ketoprak juga mengalami perubahan, musik iringan model Wreksadiningrat oleh ketoprak Wreksatama di perlengkap lagi dengan saron, biola, gitar, mandolin, kenong, kempul, gong. Nyanyian tetap seperti ketoprak Wreksadiningrat, tetapi lakon yang di tampilkan berubah, Ki Wisangkara sudah berani menampilkan lakon-lakon babad di antaranya cerita panji, ajisaka dan beberapa cerita-cerita berlatar belakang jaman kerajaan. Mungkin karena Ki Wisangkara terlalu berani menampilkan cerita dan pantun-pantun yang berisi sindirian kepada pemerintah atau keraton yang di kawatirkan bisa mengurangi kewibawaan kalangan keraton maka kesenian ketoprak ini akhirnya dilarang.


4. Ketoprak Krida Madya Utama (1927 – 1930)

Karena kesenian tersebut asalnya merupakan kesenian rakyat maka walaupun di larang akhirnya ketoprak tetap berkembang di daerah pedesaan atau pesisiran di Jawa Tengah sampai munculah ketoprak professional dengan nama Krida Madya Utama. Sebagai pendiri ketoprak tersebut adalah Ki Jagatrunarsa dan Ki Citra Yahman. Di karenakan Krida Madya Utama adalah ketoprak professional yang keberlangsungan hidupnya tergantung kepada penonton maka ketoprak Krida Madya Utama akhirnya njajah desa milang kori (berpindah pindah tempat) sampi ke daerah Yogyakarta.. Mulai saat itu ketoprak menjadi terkenal dan bisa mengungguli kesenian lainnya, seperti Srandul, EMprak dll.


5. Ketoprak Dardanela (1930 – 1955)

Setelah sampai di Yogyakarta ketoprak lebih di sempurnakan lagi dengan iringan gamelan jawa lengkap laras pelog, tema ceritanya mengambil babad dan sejarah dengan catatan kostum yang di pakai untuk pementasan tidak di perbolehkan menyamai aslinya “pakaian kebesaran keraton”. Menurut tulisan karya mendiang W.S Rendra masa-masa itu di sebut Jaman ketoprak GARDANELA karena ketoprak pada waktu itu sudah mulai berkreasi menggarap cerita-cerita dari luar negeri seperti Sampek Engtay, Johar Manik, Jenderal Sie Jien Kwie.


6. Ketoprak moderen (1955 – 1958)

Pada tahun 1955 ketoprak professional/tobongan benar-benar menjamur, banyak grup ketoprak bersaing dalam berbagai hal terutama tentang kreasi cerita dan pementasan, sehingga pada masa itu banyak grup ketoprak yang menambahkan sebuah kalimat moderen di depan nama grupnya, misalnya KETOPRAK MODEREN KRIDO MARDI. KETOPRAK MODEREN S 3 MAREM dll.


7. Ketoprak Gaya Baru (1958 – 1997)

Bagaikan sebuah perlombaan yang akhirnya di menangkan oleh Ki Siswondo Harjo Suwito, pada tahun 1958 ketoprak Siswo Budoyo dengan terobosan yang spektakuler berhasil menggulingkan ketoprak Moderen dan menggantikannya menjadi ketoprak Gaya Baru Siswo Budoyo Tulungagung. Begitulah perjalanan panjang sejarah ketoprak.


Apa syarat menjadi seniman ketoprak?

Jawabanya gampang, syarat menjadi seniman ketoprak harus mempunyai moto PAMER
Arti dari moto pamer adalah sebagai berikut:
P – Peka melihat situasi perubahan jaman/Pasar.
A – Aktif selalu dan jangan sampai ketinggalan.
M – Mau intropeksi untuk maju/mawas diri.
E – Enak di lihat, menarik sebagai tontonan yang menjadi Tuntunan
R - Rapi meminit secara produktif dan menjaga keutuhan grup.


Itulah arti moto pamer. Sedangkan maksut dari pamer secara positif riil dan jelas adalah sebagai berikut :

1. Cerita.
2. Pamer rupa.
3. Pamer busana.
4. Pamer tembang.
5. Pamer perang.
6. Pamer sasta.
7. Pamer akting.
8. Pamer iringan musik.
9. Pamer tata panggung dll.

Peran sang sutradara cukup penting dalam hal ini, dia yang bertanggung jawab berhasil dan tidaknya sebuah pementasan, meskitanpa meninggalkan pendukung yang lain.

(OLEH BING PRAWOTO)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar